Aceh Utara

Kisah Mualem Membangun Masjid di Kampung Halaman

Abdul Hadi
×

Kisah Mualem Membangun Masjid di Kampung Halaman

Sebarkan artikel ini

Di sebuah sudut tenang di Aceh Utara, berdiri sebuah masjid yang belum sepenuhnya rampung. Lantainya masih kasar, debu tipis menempel di beberapa sudut, dan di halaman terlihat tumpukan pasir serta batu bata. Namun bagi Muzakir Manaf—yang akrab disapa Mualem—bangunan itu bukan sekadar proyek fisik. Ia adalah wujud niat, kesabaran, dan kedekatan dengan kampung halaman.

Sore itu, Minggu, 5 Maret 2026, Mualem tiba di Masjid Baitul Muttaqin, Gampong Blang Tue, Kecamatan Seunuddon. Tanpa seremoni, ia melangkah pelan menuju tangga masjid. Ia melepas sepatu, duduk sejenak, lalu menggantinya dengan sandal sebelum berwudu dan menunaikan salat.

Kunjungan ini menjadi penutup perjalanan pulangnya ke kampung halaman. Sebelumnya, ia sempat bersilaturahmi dengan warga di Keude Simpang dan bertemu keluarga di Gampong Mane Kawan. Namun, langkahnya seolah menemukan makna tersendiri saat tiba di masjid yang ia bangun sejak sebelum menjabat gubernur.

Masjid itu mulai dibangun pada 2024, jauh sebelum pelantikannya pada Februari 2025. Ukurannya 18 x 21 meter, dengan kubah berwarna hijau, putih, dan kuning yang mencolok di antara dominasi dinding putih. Meski kini progresnya telah mencapai sekitar 80 persen, pembangunan masih terus berjalan—perlahan, namun pasti.

Yang membuatnya berbeda, pembangunan masjid ini tidak bertumpu pada anggaran pemerintah. Sebagian besar biaya berasal dari dana pribadi Mualem, disertai dukungan swadaya masyarakat. Warga turut berkontribusi melalui sedekah dan wakaf, tanpa penggalangan dana resmi.

Bagi panitia pembangunan, semangat gotong royong itulah yang menjadi kekuatan utama. Bahkan ketika sempat muncul wacana untuk memasukkan proyek ini ke dalam program pemerintah daerah, rencana itu tidak dilanjutkan. Mualem memilih jalannya sendiri—membangun sedikit demi sedikit, sesuai kemampuan.

Baca Juga :  Satu Tahun Mualem–Dek Fadh, Aceh Masuk Delapan Besar Nasional Kinerja Pelayanan Publik

Ungkapan yang ia sampaikan dalam bahasa Aceh masih diingat oleh panitia: bekerja perlahan, setahap demi setahap, hingga akhirnya selesai.

Selama proses pembangunan, ia juga dikenal rutin memantau perkembangan di lapangan. Kehadirannya bukan hanya sebagai donatur, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang ingin melihat rumah ibadah itu berdiri sempurna.

Usai salat sore itu, Mualem tidak langsung pergi. Ia berbincang dengan panitia dan warga, mendengarkan cerita mereka, membahas perkembangan masjid, hingga kondisi kehidupan di sekitar. Percakapan berlangsung hangat, mencerminkan hubungan yang tak terputus antara pemimpin dan kampung halamannya.

Menjelang magrib, sekitar pukul 18.05 WIB, ia pun meninggalkan lokasi. Masjid itu masih belum selesai. Namun bagi warga Blang Tue, bangunan tersebut sudah memiliki identitas sendiri—mereka menyebutnya “Masjid Mualem”.

Di balik dinding yang belum sepenuhnya rampung, masjid itu menyimpan cerita tentang kesederhanaan, komitmen, dan sebuah perjalanan pulang yang tak pernah benar-benar usai.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *