Banda Aceh — Dua pekan sudah Aceh diliputi kegelapan. Bukan semata karena bencana alam yang merobohkan menara listrik, melainkan karena harapan rakyat yang ikut runtuh bersama janji-janji pemulihan yang tak kunjung terwujud.
Malam hari di banyak wilayah Aceh kini menjadi waktu yang paling sunyi sekaligus paling menyakitkan. Aktivitas ekonomi terhenti, usaha kecil mati perlahan, anak-anak belajar dalam cahaya seadanya, dan rumah sakit serta fasilitas publik bekerja dalam keterbatasan. Rakyat bertanya-tanya: sampai kapan keadaan ini harus ditanggung?
Pemerintah melalui PT PLN (Persero) telah mengerahkan ribuan personel dari berbagai daerah, bahkan melibatkan TNI dan Polri untuk mempercepat pemulihan jaringan listrik yang rusak akibat bencana. Namun di lapangan, kenyataan yang dirasakan warga jauh dari kabar optimistis yang disampaikan ke publik.
Pernyataan pejabat pusat yang menyebut pemulihan listrik telah mencapai lebih dari 97 persen justru memicu kekecewaan mendalam. Bagi masyarakat yang masih hidup dalam gelap, angka-angka itu terasa asing dan tidak mencerminkan realitas sehari-hari.
“Yang kami rasakan bukan persentase, tapi kegelapan,” ungkap seorang warga Banda Aceh. “Janji yang diulang tanpa bukti hanya menambah luka.”
Lebih dari sekadar listrik yang padam, krisis ini telah menghantam sendi-sendi ekonomi rakyat. Pedagang kecil kehilangan penghasilan, nelayan kesulitan menyimpan hasil tangkapan, dan pelaku UMKM terpaksa menutup usaha. Aceh seperti dipaksa menanggung bencana kedua: krisis layanan publik.
Kekecewaan juga diarahkan kepada para wakil rakyat yang dinilai belum cukup bersuara lantang membela kepentingan masyarakat. Di tengah penderitaan yang berkepanjangan, rakyat berharap ada kehadiran nyata negara—bukan sekadar pernyataan di atas kertas.
Aceh bukan meminta keistimewaan, melainkan keadilan. Rakyat hanya ingin hidup normal kembali, menyalakan lampu di rumah mereka, dan melanjutkan kehidupan tanpa rasa cemas. Di tanah yang dikenal dengan solidaritas dan ketangguhannya ini, harapan masih ada—asal negara benar-benar hadir, jujur, dan bertanggung jawab.





