Banda Aceh

Dishub Aceh Rilis Data Transportasi 2025: Trans Koetaradja Paling Stabil di Tengah Tekanan Bencana

Abdul Hadi
×

Dishub Aceh Rilis Data Transportasi 2025: Trans Koetaradja Paling Stabil di Tengah Tekanan Bencana

Sebarkan artikel ini

Aktualnews.net I Banda Aceh – Dinas Perhubungan Aceh secara resmi merilis laporan evaluasi pergerakan penumpang lintas moda transportasi sepanjang tahun 2025. Berdasarkan data yang dihimpun sepanjang tahun lalu, hampir seluruh moda transportasi publik di Aceh mengalami penyesuaian volume penumpang dengan tren penurunan berkisar antara 0,9 persen hingga 14,6 persen dibandingkan capaian tahun 2024.

Penurunan mobilitas tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, salah satunya dampak bencana banjir dan longsor yang melanda hampir seluruh wilayah Aceh pada penghujung tahun 2025, yang menyebabkan terganggunya konektivitas angkutan darat, laut, maupun udara.

Namun demikian, Trans Koetaradja, layanan angkutan massal perkotaan tercatat sebagai moda yang paling tangguh dalam menjaga loyalitas penggunanya.

Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal, ST., MT., menyampaikan bahwa Angkutan Massal Trans Koetaradja menunjukkan performa paling stabil di antara moda transportasi lainnya. Sepanjang tahun 2025, Trans Koetaradja melayani sebanyak 947.603 penumpang, hanya turun tipis 0,9 persen dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 956.084 penumpang.

Grafik pergerakan bulanan menunjukkan puncak aktivitas tertinggi terjadi pada Oktober dengan 134.434 penumpang, sementara angka terendah tercatat pada awal tahun, yakni Januari.

“Trans Koetaradja tetap menjadi pilihan utama masyarakat dalam mobilitas harian di wilayah perkotaan. Stabilitas ini menunjukkan bahwa angkutan massal telah menjadi kebutuhan yang sangat diandalkan warga utamanya di Banda Aceh,” ujar Teuku Faisal di Banda Aceh, Senin, 5/1/2026.

Pada sektor udara, Angkutan Udara Komersil yang melayani Bandara Sultan Iskandar Muda, Bandara Malikussaleh, Bandara Cut Nyak Dhien, dan Bandara Lasikin mencatat total 822.458 penumpang sepanjang 2025. Angka ini turun sekitar 7 persen dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 887.412 penumpang.

Sementara itu, Angkutan Udara Perintis yang menghubungkan Bandara Sultan Iskandar Muda, Malikussaleh, Maimun Saleh, Syekh Hamzah Fanshuri, Alas Leuser, Teuku Cut Ali, Blangkejeren, dan Bandara Rembele melayani 9.089 penumpang, turun 4,6 persen dibandingkan 9.530 penumpang pada tahun sebelumnya.

Baca Juga :  Mualem Salurkan Langsung Bantuan ke Aceh Utara

Untuk sektor laut, Angkutan Penyeberangan Komersil di pelabuhan strategis seperti Ulee Lheue, Balohan, Kuala Bubon, Labuhan Haji, Singkil, dan Sinabang melayani 819.548 penumpang, atau turun 8,4 persen dari capaian tahun 2024 yang mencapai 894.273 penumpang.

Adapun Angkutan Penyeberangan Perintis melalui Pelabuhan Ulee Lheue, Singkil, Lamteng, dan Pulau Banyak mencatat 30.293 penumpang, turun 11,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 34.134 penumpang.

Penurunan paling signifikan terjadi pada sektor Angkutan Darat. Berdasarkan data Terminal Tipe-B di Aceh Tamiang, Sigli, Aceh Jaya, Aceh Barat Daya, Aceh Selatan, Pidie Jaya, Bireuen, Bener Meriah, dan Aceh Singkil, total penumpang tahun 2025 tercatat sebanyak 205.328 orang. Angka ini turun 14,6 persen dibandingkan tahun 2024 yang melayani 240.532 penumpang.

Secara bulanan, puncak arus penumpang terminal terjadi pada Juli dengan 25.182 orang, sementara titik terendah tercatat pada Februari sebanyak 7.287 orang. Gangguan infrastruktur akibat banjir dan longsor di akhir tahun turut memengaruhi kelancaran mobilitas angkutan darat di sejumlah wilayah.

Teuku Faisal menjelaskan, meskipun terjadi penurunan volume penumpang lintas moda, Dishub Aceh tetap memaksimalkan layanan transportasi agar mobilitas masyarakat tetap terjaga, khususnya pada masa tanggap darurat bencana. “Penurunan ini tidak mengurangi standar layanan maupun komitmen kami terhadap keselamatan. Justru menjadi bahan evaluasi penting untuk perbaikan ke depan,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa Dishub Aceh akan segera melakukan pembenahan terhadap sejumlah fasilitas transportasi yang terdampak bencana, termasuk terminal di Aceh Tamiang dan beberapa titik lainnya, agar pelayanan penumpang tidak terganggu.

“Data tahun 2025 ini menjadi acuan strategis bagi kami untuk melakukan kalibrasi layanan, penguatan integrasi antarmoda, serta perbaikan infrastruktur transportasi. Tujuannya agar mobilitas masyarakat Aceh tetap aman, lancar, dan terkendali di tahun-tahun mendatang,” kata Teuku Faisal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *