BANDA ACEH – Bagi Alta Zaini, Ketua Asosiasi Keuchik Kota Banda Aceh, kepergian Kombes Pol Fahmi Irwan Ramli ke Markas Besar Polri bukan sekadar mutasi jabatan. Ia menyebutnya sebagai momen kehilangan—bukan hanya kehilangan seorang Kapolresta, tapi juga sahabat yang telah menjadi seperti saudara.
“Saya tidak melihat beliau sebagai pejabat. Beliau sudah seperti adik sendiri—sosok yang selalu hadir, mendengar, dan membersamai kami, para Keuchik dan masyarakat Banda Aceh,” ujar Alta, yang juga menjabat Ketua Umum Non Litigation Peacemaker Association (NLPA).
Dalam setahun masa jabatannya sebagai Keuchik Gampong Lampulo, Alta menyaksikan sendiri bagaimana sosok Fahmi membaur dengan masyarakat. Ia mengingat betul momen 23 Desember 2022, ketika Fahmi resmi menjabat sebagai Kapolresta Banda Aceh. Sejak saat itu, komunikasi antara warga dan kepolisian terasa jauh lebih dekat.
Dengan tagline Poltaman (Polresta Banda Aceh Taat dan Bermanfaat), Fahmi melahirkan program-program yang menyentuh langsung masyarakat. Salah satu yang paling dirasakan adalah Jumat Curhat—forum mingguan yang menjadi ruang diskusi terbuka antara warga dan aparat penegak hukum.
“Program itu bukan basa-basi. Saya lihat sendiri bagaimana beliau mendengar keluhan warga di lapangan. Bahkan WA pribadinya dibuka untuk pengaduan langsung. Itu bukan hal yang biasa untuk ukuran pejabat,” ujar Alta.
Sebagai pemimpin di tingkat gampong, Alta merasa terbantu oleh pendekatan humanis dan terbuka yang diterapkan Fahmi. Ia menyebut, kehadiran Fahmi memperkuat sinergi antara aparat desa dan kepolisian dalam membangun rasa aman, menangkal narkoba, dan menjaga ketertiban.
Salah satu pencapaian yang tak terlupakan adalah keberhasilan Gampong Lampulo meraih juara II nasional dalam program Kampung Bebas Narkoba yang digelar Mabes Polri. Alta menyebut prestasi itu tak lepas dari tangan dingin dan dorongan Fahmi.
“Pak Fahmi tidak hanya mendukung di atas kertas. Beliau turun langsung, menyatu dengan satgas di lapangan, mendorong sosialisasi dan pencegahan, bahkan sebelum ada perintah dari pusat,” katanya.
Tak hanya itu, Alta juga menyebut Fahmi sebagai pelopor ketahanan pangan di tingkat lokal, jauh sebelum program serupa digaungkan secara nasional.
Berbagai inisiatif di sektor hewani dan nabati telah digalakkan Fahmi di banyak gampong dalam wilayah hukum Polresta.
Kini, dengan penugasan baru di Mabes Polri, Alta dan para Keuchik se-Kota Banda Aceh merasa kehilangan figur yang begitu dekat. Meski berat, ia mengaku bangga melihat langkah karir Fahmi yang terus menanjak.
“Kami doakan beliau kembali ke Aceh suatu hari nanti. Semoga saat itu, bukan lagi sebagai Kapolresta, tapi sebagai Kapolda Aceh. Irjen Pol Fahmi Irwan Ramli. Amin,” harap Alta, penuh rasa bangga.
Alta Zaini percaya, warisan kerja dan teladan Fahmi akan tetap hidup di tengah masyarakat.
“Beliau mungkin pergi, tapi senyum dan jejak langkahnya masih akan kami kenang, kami lanjutkan,” tutupnya.










