BANDA ACEH – Dua dekade telah berlalu sejak tsunami meluluhlantakan Aceh pada 26 Desember 2004. Namun bagi Alta Zaini, waktu belum mampu sepenuhnya menyembuhkan luka yang ditinggalkan oleh tragedi tersebut.
Hari itu, ia kehilangan istri tercintanya, Mariani, dan putri kecilnya, Tasya Novrianda Tayani, yang baru berusia lima tahun. Gelombang dahsyat yang menyapu Gampong Lampulo tidak hanya merenggut keluarga terdekatnya tetapi juga meninggalkan kehampaan mendalam yang tak tergantikan.
Namun dari puing-puing kehidupan, Alta memilih untuk bangkit. Kini, sebagai keuchik (kepala desa) Gampong Lampulo, ia menjadi simbol harapan, pemimpin yang membawa semangat kebangkitan bagi warganya meskipun di dalam hatinya selalu ada ruang kosong yang tak mungkin terisi.
Malam Itu yang Tak Terulang
Malam terakhir sebelum bencana, 25 Desember 2004, menjadi kenangan yang tak pernah pudar dari ingatan Alta. Di rumahnya yang penuh canda tawa, ia mendadak meminta maaf kepada keluarganya.
“Nani, Jeffry, Tasya… maafkan Ayah, ya?” ucapnya tanpa alasan yang jelas. Hati kecilnya terasa berat, seolah firasat buruk telah mengusiknya.
Putrinya, Tasya, dengan polos bertanya, “Kenapa Ayah minta maaf? Kan Ayah nggak salah apa-apa.”
Ucapan sederhana itu kini menjadi pengingat akan kehangatan keluarga yang tak pernah kembali.
Ketika Bumi dan Laut Berbicara
Keesokan paginya, gempa bumi mengguncang Aceh dengan kekuatan yang tak pernah mereka rasakan sebelumnya. Orang-orang berhamburan keluar rumah, termasuk Alta dan keluarganya.
Namun, ketika kabar air laut naik mulai terdengar, naluri Alta memaksanya berlari kembali ke rumah.
“Saya harus memastikan keluarga aman,” kenangnya dengan suara bergetar. Namun, sesampainya di sana, rumah itu kosong. Istri dan anak-anaknya sudah tidak ada lagi dirumah.
Pencarian yang Penuh Duka
Setelah tsunami surut, Alta memulai pencarian yang berat. Ia berjalan di antara reruntuhan, memanggil-manggil nama anaknya.
“Jeffryyyyy… Jeffryyyyy… di mana kamu, Nak?” Teriakan itu menggema, menyayat hati siapa pun yang mendengarnya.
Seorang tetangga memberi kabar bahwa Jeffry masih hidup, terjebak di atap rumah.
Dengan harapan yang tersisa, Alta bergegas ke arah yang ditunjukkan. Tapi langkah itu berat, bukan hanya karena puing-puing tajam yang harus ia lewati, melainkan juga karena ia harus menyaksikan tubuh-tubuh tak bernyawa berserakan di sepanjang jalan.
Ketika akhirnya ia bertemu Jeffry, hatinya hancur mendengar jawaban anaknya. “Ada mamak, Nak? Adik Tasya?” tanya Alta.
Jeffry menggeleng dengan wajah sedih. “Tidak ada, Yah. Mereka nggak ada…”
Alta memeluk anaknya, mencoba menguatkan diri meski hatinya runtuh. “Ayo, Nak. Kita cari perlindungan ke rumah nenek,” katanya lirih.
Kenangan yang Menjadi Penopang
Hingga hari ini, Alta masih mengingat dengan jelas suara tawa anak-anaknya, senyum istrinya, dan malam terakhir itu. Tapi dari kenangan itulah ia menemukan kekuatan untuk bangkit.
“Malam itu, Tuhan memberi saya kesempatan untuk meminta maaf kepada mereka. Mungkin itu cara-Nya untuk mempersiapkan hati saya menghadapi kehilangan. Kenangan itu akan selalu menjadi bagian dari saya,” kata Alta dengan suara bergetar.
Harapan di Tengah Kehilangan
Kini, Alta adalah penggerak harapan di Gampong Lampulo. Di tengah luka yang tak pernah sembuh, ia memilih untuk terus melangkah.
“Kehilangan mereka mengajarkan saya bahwa hidup ini rapuh, tapi kita harus kuat untuk yang lain, untuk yang masih ada,” tuturnya.
Alta Zaini adalah bukti bahwa meskipun kehilangan bisa menghancurkan, harapan dapat menyatukan kembali puing-puing kehidupan. Di tengah bayangan tragedi, ia berdiri, membawa pesan: dari luka yang paling dalam, harapan selalu bisa lahir.
Kepemimpinan yang Menginspirasi
Hingga hari ini, Alta masih mengingat dengan jelas suara tawa anak-anaknya, senyum istrinya, dan malam terakhir itu. Tapi dari kenangan itulah ia menemukan kekuatan untuk bangkit.
Sebagai keuchik, Alta tak hanya membawa semangat kebangkitan, tetapi juga mendorong Gampong Lampulo meraih prestasi.
Di bawah kepemimpinannya, gampong ini telah berkembang pesat. membangun kehidupan yang lebih baik dengan semangat kebersamaan.
Di tingkat provinsi, Gampong Lampulo berhasil meraih berbagai penghargaan Bahkan, prestasi itu menembus tingkat nasional.
Alta juga memimpin berbagai program inovatif, seperti pengembangan ekonomi berbasis usaha mikro dan pelestarian budaya lokal. Semua ini menjadikan Gampong Lampulo tak hanya bangkit dari tragedi, tetapi juga menjadi contoh bagi desa-desa lain di Aceh.











