Aktualnews.net I Banda Aceh – Wakil Ketua DPRK Banda Aceh, Dr. Musriadi, S.Pd., M.Pd., mendorong agar Draf Kurikulum Pendidikan Diniyah Kota Banda Aceh tidak berhenti sebagai dokumen akademik, tetapi benar-benar diimplementasikan di sekolah untuk membentuk generasi berkarakter Qurani.
Hal itu disampaikan Musriadi dalam sambutannya pada Focus Group Discussion (FGD) Draf Kurikulum Pendidikan Diniyah Kota Banda Aceh bertema “Menuju Generasi Pendidikan Dasar Kota Banda Aceh yang Berkarakter Qurani” di Aula Kantor DPRK Banda Aceh, Kamis (8/10/2026).
FGD tersebut dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh, Sulaiman Bakri, M.Pd.
Kegiatan diikuti berbagai pemangku kepentingan, antara lain Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, MPD, MAA, MPU, Dinas Pendidikan Dayah, Dinas Syariat Islam, Kobar GB, PGRI, kepala sekolah SD dan SMP, serta perwakilan guru pendidikan diniyah.
Turut hadir tim penyusun Draf Kurikulum Pendidikan Diniyah dari UIN Ar-Raniry Banda Aceh dan Universitas Syiah Kuala (USK).
Musriadi mengatakan, penyusunan kurikulum diniyah bukan sekadar menyelesaikan dokumen, tetapi menyangkut arah masa depan pendidikan dan karakter anak-anak Banda Aceh.
“Kita tidak hanya sedang menyusun dokumen kurikulum. Kita sedang menyiapkan fondasi pendidikan dan karakter anak-anak Kota Banda Aceh,” kata Musriadi.
Menurutnya, Qanun Kota Banda Aceh Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pendidikan Diniyah harus diwujudkan melalui implementasi nyata di satuan pendidikan.
Ia menyebut tujuh bidang dalam kurikulum, yakni Baca Tulis Al-Qur’an (BTQ), Tahfidz, Akidah, Fikih, Akhlak, Tarikh dan BTAM, harus terintegrasi untuk membentuk karakter peserta didik.
“Belajar Al-Qur’an harus melahirkan kecintaan kepada Al-Qur’an. Belajar akhlak harus tercermin dalam perilaku. Belajar agama harus melahirkan kesalehan pribadi dan kepedulian sosial,” tegasnya.
Musriadi menilai pendidikan diniyah semakin penting di tengah perkembangan teknologi, media sosial dan derasnya arus informasi. Pendidikan diniyah, kata dia, harus menjadi kompas moral yang membimbing anak dalam bersikap dan mengambil keputusan.
Ia juga menekankan pentingnya kesiapan guru dan sekolah dalam menerapkan kurikulum, termasuk kompetensi pendidik, bahan ajar, sarana pembelajaran dan sistem evaluasi.
“Sebagus apa pun kurikulumnya, tidak akan berjalan tanpa pendidik yang kompeten sekaligus menjadi teladan bagi peserta didik,” ujarnya.
Musriadi menyatakan DPRK Banda Aceh akan terus mendorong penguatan pendidikan diniyah sesuai fungsi dan kewenangannya, termasuk dalam aspek perencanaan dan penganggaran sesuai kemampuan daerah dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Ia berharap FGD yang melibatkan pemerintah, ulama, akademisi, organisasi profesi, kepala sekolah dan guru tersebut menghasilkan rekomendasi konkret untuk menyempurnakan draf kurikulum.
“Jangan sampai kurikulum ini hanya bagus di atas kertas. Kita ingin pendidikan diniyah benar-benar hidup di sekolah dan membentuk anak-anak yang beriman, berilmu, berakhlak dan berkarakter Qurani,” pungkas Musriadi.





