Banda Aceh

Musriadi: Perang Melawan Narkoba Harus Dimulai dari Membangun Ketahanan Generasi Muda

Abdul Hadi
×

Musriadi: Perang Melawan Narkoba Harus Dimulai dari Membangun Ketahanan Generasi Muda

Sebarkan artikel ini

Aktualnews.net I Banda Aceh – Wakil Ketua DPRK Banda Aceh, Dr. Musriadi, S.Pd., M.Pd, menegaskan bahwa upaya pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan serta peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika (P4GNPN) tidak cukup dilakukan melalui pendekatan hukum dan penindakan semata.

Menurutnya, perang melawan narkoba harus dimulai dari membangun manusia yang memiliki karakter, ketahanan diri, kekuatan moral dan masa depan yang jelas.

Hal tersebut disampaikan Musriadi dalam kegiatan Sosialisasi P4GNPN bagi Pelajar Kota Banda Aceh, Sabtu, 15/8/2026.

“Pencegahan narkoba harus dimulai dari membangun manusia, bukan hanya menakut-nakuti manusia. Anak-anak kita harus memiliki kemampuan untuk mengatakan tidak, mengelola tekanan teman sebaya, mengendalikan emosi dan mengambil keputusan yang benar,” ujar Musriadi.

Ia menekankan, keberanian generasi muda bukan ditunjukkan dengan mencoba segala sesuatu, termasuk narkoba. Sebaliknya, keberanian sejati adalah mampu menolak sesuatu yang dapat menghancurkan masa depan.

“Anak muda yang hebat bukan anak muda yang berani mencoba segala sesuatu, tetapi anak muda yang berani mengatakan tidak terhadap sesuatu yang menghancurkan masa depannya,” tegasnya.

Agama Menjadi Kekuatan Moral

Musriadi mengatakan, Banda Aceh memiliki modal sosial yang kuat dalam upaya pencegahan narkoba, terutama melalui nilai-nilai Islam, keluarga, masjid, dayah dan tradisi keagamaan.

Karena itu, pendidikan anti-narkoba, kata dia, perlu dihubungkan dengan nilai hifz al-’aql, yakni menjaga akal sebagai salah satu tujuan penting dalam maqashid syariah.

“Narkoba bukan hanya persoalan hukum. Ini juga persoalan menjaga akal, kesehatan, kehormatan diri, keluarga dan masa depan,” katanya.

Ia mengingatkan pelajar bahwa akal merupakan amanah yang harus dijaga.

“Allah memberikan akal kepada kita sebagai amanah. Karena itu, menjaga akal adalah bagian dari menjaga martabat manusia,” ujarnya.

Sekolah Harus Menjadi Benteng Pencegahan

Musriadi juga mendorong sekolah di Banda Aceh tidak menjadikan sosialisasi anti-narkoba sebagai kegiatan seremonial semata.

Menurutnya, sekolah harus berkembang menjadi ruang ketahanan anti-narkoba yang melibatkan kepala sekolah, guru, guru BK, OSIS, orang tua dan siswa.

Pendidikan anti-narkoba juga dapat diintegrasikan melalui berbagai mata pelajaran dan aktivitas sekolah, seperti Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila, Biologi dan kesehatan, bimbingan konseling, kegiatan OSIS, ekstrakurikuler, olahraga, seni hingga literasi digital.

“Sekolah harus menjadi ekosistem yang mampu membangun daya tahan anak terhadap narkoba, bukan hanya tempat memberikan informasi tentang bahaya narkoba,” jelasnya.

Keluarga Jadi Benteng Pertama

Politisi PAN tersebut juga mengingatkan pentingnya peran keluarga. Ia meminta orang tua tidak hanya bertindak ketika anak sudah menghadapi persoalan.

“Keluarga harus menjadi benteng pertama, bukan polisi pertama,” katanya.

Menurut Musriadi, komunikasi, perhatian, keteladanan, pengawasan dan kepercayaan merupakan lima hal penting dalam membangun ketahanan keluarga.

Orang tua, lanjutnya, perlu mengetahui lingkungan pergaulan anak, aktivitas digital, tekanan yang dihadapi, persoalan akademik maupun konflik sosial yang mungkin dialami anak.

Baca Juga :  Polres Aceh Tamiang Berhasil Amankan Narkotika Jenis Kokain Seberat Dua Kilogram

Tegas kepada Pengedar, Selamatkan Korban

Dalam penanganan narkoba, Musriadi menilai perlu ada pendekatan yang proporsional.

Ia menegaskan aparat dan pemerintah harus bertindak tegas terhadap bandar, pengedar dan jaringan peredaran gelap narkotika. Namun, korban penyalahgunaan dan orang yang telah mengalami ketergantungan juga membutuhkan penanganan serta rehabilitasi.

“Bandar harus ditindak tegas, korban harus diselamatkan,” tegasnya.

Menurutnya, kebijakan P4GNPN harus berjalan melalui pendekatan yang terintegrasi antara pencegahan, pemberantasan, penanganan dan rehabilitasi.

Dorong Digital Anti-Drug Literacy

Musriadi juga menyoroti perubahan pola pergaulan generasi muda yang semakin banyak berlangsung di ruang digital.

Menurutnya, upaya pencegahan narkoba harus masuk ke media sosial dan platform digital.

Ia mendorong adanya program “Digital Anti-Drug Literacy” bagi pelajar Banda Aceh.

“Pelajar harus mampu mengenali akun mencurigakan, memahami modus perekrutan, tidak mudah percaya terhadap tawaran pekerjaan atau penghasilan, serta berani melaporkan aktivitas digital yang mencurigakan,” katanya.

Ia berharap media sosial tidak menjadi pintu masuk peredaran narkoba, tetapi justru menjadi sarana kampanye positif dan edukasi bagi generasi muda.

Gampong Bersinar

Selain sekolah dan keluarga, Musriadi juga mendorong gampong menjadi benteng sosial dalam pencegahan narkoba.

Ia menawarkan penguatan konsep “Gampong Bersinar – Bersih Narkoba, Sehat dan Produktif.”

Konsep tersebut, menurutnya, tidak boleh berhenti pada pemasangan spanduk, tetapi harus diwujudkan melalui kader atau relawan anti-narkoba, pemetaan kelompok rentan, kegiatan positif bagi anak muda, edukasi keluarga, kanal pengaduan serta kerja sama dengan BNNK, kepolisian, sekolah dan puskesmas.

“Pencegahan narkoba harus menjadi gerakan masyarakat, bukan hanya pekerjaan BNN dan kepolisian,” ujarnya.

DPRK Dorong Kebijakan yang Konsisten

Sebagai pimpinan DPRK Banda Aceh, Musriadi menegaskan DPRK memiliki tiga instrumen penting dalam mendukung P4GNPN, yakni regulasi, penganggaran dan pengawasan.

Ia meminta agar program pencegahan narkoba tidak berhenti pada banyaknya kegiatan sosialisasi, tetapi harus diukur berdasarkan dampaknya terhadap ketahanan generasi muda.

“Kita tidak boleh mengukur keberhasilan hanya dari berapa banyak kegiatan yang dilaksanakan. Yang lebih penting adalah seberapa kuat anak-anak kita mampu menolak narkoba,” katanya.

Musriadi mengajak seluruh unsur pemerintah, sekolah, keluarga, gampong, tokoh agama, aparat penegak hukum dan masyarakat untuk membangun sebuah gerakan bersama.

Gerakan Banda Aceh Melindungi Generasi

Ia kemudian menyerukan “Gerakan Banda Aceh Melindungi Generasi” sebagai semangat bersama dalam melindungi anak-anak dan pemuda dari ancaman narkoba.

“Melindungi akalnya melalui agama, karakternya melalui pendidikan, tubuhnya melalui kesehatan, masa depannya melalui kesempatan, lingkungannya melalui budaya positif dan keluarganya melalui ketahanan sosial,” kata Musriadi.

Ia menegaskan, perang melawan narkoba pada hakikatnya bukan hanya tentang menghentikan peredaran narkotika, tetapi tentang menyelamatkan manusia dan masa depan kota.

“Perang melawan narkoba adalah tentang menyelamatkan manusia. Dan menyelamatkan generasi muda berarti menyelamatkan masa depan Banda Aceh,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *