Aktualnews.net I Banda Aceh – Wakil Ketua DPRK Banda Aceh yang juga Koordinator Presidium Majelis Daerah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MD KAHMI) Aceh Besar, Dr. Musriadi Aswad, M.Pd, menegaskan bahwa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) harus terus melahirkan kader-kader intelektual yang mampu menjadi agen perubahan di tengah masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Musriadi saat membuka kegiatan Basic Training (Latihan Kader I/LK I) HMI Komisariat Se-Aceh Besar yang berlangsung di Aula Insan Cita HMI Cabang Banda Aceh.
Dalam sambutannya, Musriadi mengatakan bahwa HMI merupakan organisasi kader yang memiliki sejarah panjang dan kontribusi besar terhadap perjalanan bangsa Indonesia. Sejak didirikan pada 5 Februari 1947, HMI telah melahirkan banyak tokoh nasional, akademisi, birokrat, pengusaha, hingga pemimpin daerah yang berkiprah di berbagai bidang.
Menurutnya, Basic Training merupakan gerbang awal dalam proses pengkaderan yang bertujuan membentuk karakter, wawasan intelektual, kepemimpinan, serta komitmen keislaman dan kebangsaan para kader.
“Basic Training bukan sekadar kegiatan formal organisasi. Ini adalah proses pembentukan kader yang akan menentukan arah masa depan HMI dan kontribusinya bagi umat serta bangsa,” ujar Musriadi.
Sebagai alumni HMI yang kini dipercaya sebagai Koordinator Presidium MD KAHMI Aceh Besar, Musriadi menilai pengkaderan merupakan ruh organisasi yang harus terus dijaga kualitasnya. Menurutnya, tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini semakin kompleks, mulai dari derasnya arus informasi digital, rendahnya budaya literasi, hingga krisis moral dan sosial yang terjadi di berbagai lapisan masyarakat.
Karena itu, ia mengajak seluruh peserta untuk memanfaatkan momentum Basic Training sebagai ruang pembelajaran dan pengembangan kapasitas diri.
“HMI harus melahirkan kader yang kuat secara intelektual, kokoh dalam moral dan spiritual, serta memiliki kemampuan kepemimpinan yang baik. Ketiga hal tersebut menjadi modal utama untuk menjadi agen perubahan di tengah masyarakat,” katanya.
Musriadi menambahkan, kader HMI tidak boleh hanya menjadi penonton terhadap berbagai persoalan bangsa. Sebaliknya, kader harus hadir menawarkan gagasan, solusi, dan kontribusi nyata melalui ilmu pengetahuan, pengabdian sosial, serta kepemimpinan yang berintegritas.
Ia juga mengingatkan bahwa Aceh membutuhkan generasi muda yang mampu menjaga nilai-nilai keislaman sekaligus adaptif terhadap perkembangan zaman. Oleh karena itu, mahasiswa harus membiasakan diri berpikir kritis, memperkuat tradisi literasi, dan aktif terlibat dalam berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan.
“Saya percaya peserta LK I yang hadir hari ini adalah calon-calon pemimpin masa depan. Dari forum pengkaderan seperti inilah akan lahir pemimpin daerah, akademisi, birokrat, pengusaha, dan tokoh masyarakat yang membawa perubahan positif bagi Aceh dan Indonesia,” ujarnya.
Di akhir sambutannya, Musriadi Aswad secara resmi membuka Basic Training (LK I) HMI Komisariat Se-Aceh Besar dan berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan baik serta melahirkan kader-kader HMI yang berkualitas, berintegritas, dan siap mengabdi untuk umat dan bangsa.
Kegiatan yang dipusatkan di Aula Insan Cita HMI Cabang Banda Aceh tersebut diikuti oleh puluhan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi yang tergabung dalam komisariat HMI se-Aceh Besar. Selama pelatihan, peserta akan mendapatkan berbagai materi keislaman, kepemimpinan, keorganisasian, Nilai Dasar Perjuangan (NDP), serta wawasan kebangsaan sebagai bagian dari proses pengkaderan formal HMI.





