Banda Aceh

Dishub Aceh Rilis Data Transportasi 2025: Lebih dari 4 Juta Pergerakan Penumpang Tercatat Sepanjang Tahun

Abdul Hadi
×

Dishub Aceh Rilis Data Transportasi 2025: Lebih dari 4 Juta Pergerakan Penumpang Tercatat Sepanjang Tahun

Sebarkan artikel ini

Aktualnews.net I Banda Aceh – Dinas Perhubungan Aceh merilis hasil evaluasi pergerakan penumpang lintas moda transportasi sepanjang tahun 2025. Data tersebut mencatat lebih dari 4 juta pergerakan penumpang sepanjang tahun, meskipun secara umum terjadi penurunan volume pengguna jasa transportasi publik dibandingkan tahun 2024. Penurunan ini terutama terjadi pada angkutan darat, seiring dampak bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda hampir semua wilayah Aceh pada penghujung tahun.

Berdasarkan rekapitulasi Dishub Aceh, total pergerakan penumpang transportasi darat antarkota sepanjang 2025 mencapai 2.491.303 orang. Angka ini merupakan gabungan dari angkutan antarkota antarprovinsi (AKAP) dan angkutan antarkota dalam provinsi (AKDP) dan pengguna Trans Koetaradja

Pada sektor AKAP, jumlah penumpang tahun 2025 tercatat sebanyak 907.154 orang, turun 6,2 persen dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 967.460 penumpang. Penurunan ini relatif merata sepanjang tahun, dengan koreksi paling tajam terjadi pada akhir tahun seiring terganggunya akses jalan akibat bencana hidrometeorologi.

Sementara itu, angkutan AKDP mengalami penurunan yang lebih signifikan. Sepanjang 2025, jumlah penumpang AKDP tercatat sebanyak 636.546 orang, turun 16,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 763.413 penumpang. Penurunan ini dipengaruhi oleh terbatasnya konektivitas antarkabupaten, khususnya di wilayah yang terdampak banjir bandang dan longsor.

Di tengah tekanan pada angkutan darat antarkota, layanan angkutan massal perkotaan Trans Koetaradja menunjukkan kinerja yang relatif stabil. Sepanjang 2025, Trans Koetaradja melayani 947.603 penumpang, hanya turun tipis 0,9 persen dibandingkan capaian tahun 2024 yang mencapai 956.084 penumpang.

Kepala Dinas Perhubungan Aceh, Teuku Faisal, ST., MT., menilai stabilitas Trans Koetaradja mencerminkan peran penting angkutan massal sebagai penopang mobilitas harian masyarakat perkotaan, bahkan dalam situasi sulit.

“Di tengah berbagai keterbatasan akibat bencana, angkutan massal di perkotaan tetap menjadi pilihan utama masyarakat. Ini menunjukkan bahwa layanan transportasi publik yang terjangkau dan konsisten masih sangat dibutuhkan,” kata Teuku Faisal di Banda Aceh, Jumat, 9/1/2026.

Pada sektor transportasi udara, angkutan udara komersial yang melayani Bandara Sultan Iskandar Muda, Bandara Rembele, Bandara Malikussaleh, Bandara Cut Nyak Dhien, dan Bandara Lasikin mencatat total 823.791 penumpang sepanjang 2025. Angka ini turun sekitar 7 persen dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 887.412 penumpang.

Baca Juga :  Mualem Salat Idul Adha di Masjid Raya Baiturrahman Bersama Istri

Untuk angkutan udara perintis, jumlah penumpang sepanjang 2025 tercatat sebanyak 9.076 orang, turun 4,8 persen dibandingkan 9.530 penumpang pada tahun sebelumnya. Layanan ini menghubungkan sejumlah wilayah terpencil dan pesisir, termasuk Blangkejeren, Rembele, dan Maimun Saleh.

Secara total, angkutan udara di Aceh mengangkut sebanyak 832.867 penumpang pada 2025, turun 7,14 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 896.942 penumpang.

Meski secara statistik mengalami penurunan, Teuku Faisal menjelaskan bahwa transportasi udara justru memainkan peran penting selama masa bencana. Ketika akses darat terputus akibat banjir dan longsor, bandara-bandara di Aceh tetap berfungsi sebagai jalur distribusi logistik, bantuan kemanusiaan, serta mobilisasi personel tanggap darurat.

“Dalam kondisi darurat, fungsi transportasi udara tidak diukur dari jumlah penumpang semata, tetapi dari kemampuannya menjaga konektivitas dan memastikan bantuan bisa sampai ke wilayah terdampak,” ujarnya.

Hal serupa juga terlihat pada sektor angkutan laut. Sepanjang 2025, angkutan penyeberangan komersial melalui pelabuhan strategis seperti Ulee Lheue, Balohan, Kuala Bubon, Labuhan Haji, Singkil, dan Sinabang melayani 819.256 penumpang, turun 8,4 persen dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 894.273 penumpang.

Sementara itu, angkutan penyeberangan perintis melalui Pelabuhan Ulee Lheue, Singkil, Lamteng, dan Pulau Banyak melayani 30.293 penumpang, turun 11,3 persen dibandingkan 34.134 penumpang pada tahun sebelumnya.

Secara keseluruhan, total penumpang angkutan laut pada 2025 tercatat sebanyak 867.198 orang, berkurang 74.335 penumpang dibandingkan 2024.

Teuku Faisal menyebut, pelabuhan-pelabuhan di Aceh tetap beroperasi selama masa tanggap darurat dan menjadi salah satu jalur utama distribusi bantuan, maupun pergerakan relawan terutama ke wilayah yang sulit dijangkau melalui darat.

“Transportasi laut dan udara menjadi penghubung vital saat bencana. Keberlanjutan operasional pelabuhan dan bandara memastikan logistik dan bantuan kemanusiaan tetap bergerak,” kata Teuku Faisal.

Ia menegaskan, meskipun volume penumpang menurun di hampir seluruh moda, Dishub Aceh tetap memastikan layanan transportasi berjalan optimal, aman, dan selamat. Data transportasi tahun 2025 itu, menurutnya, menjadi dasar evaluasi dan perencanaan ke depan, termasuk penguatan ketahanan infrastruktur dan integrasi antarmoda agar sistem transportasi Aceh semakin siap menghadapi berbagai kondisi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *