Banda Aceh

Azanuddin Kurnia Raih Serambi Award 2026, Penggagas Pemanfaatan Lumpur Sawah Jadi Batu Bata

Abdul Hadi
×

Azanuddin Kurnia Raih Serambi Award 2026, Penggagas Pemanfaatan Lumpur Sawah Jadi Batu Bata

Sebarkan artikel ini

Aktualnews.net I Banda Aceh – Gebrakan inovatif dalam mempercepat pemulihan sektor pertanian pascabencana mengantarkan Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh, Dr. Ir. Azanuddin Kurnia, SP, MP, IPU, ASEAN Eng, meraih penghargaan bergengsi Serambi Award 2026.

Azanuddin menerima penghargaan kategori “Penggagas Pemanfaatan Lumpur Sawah Menjadi Batu Bata” dalam malam apresiasi Serambi Award 2026 bertema “Gebrakan Sang Pemimpin” yang digelar di Gedung AAC Dayan Dawood, Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh, Sabtu (29/8/2026) malam.

Penghargaan tersebut diberikan atas gagasan dan kontribusi Azanuddin dalam mendorong pemulihan ribuan hektare sawah terdampak bencana di Aceh. Salah satu gagasan yang dikembangkan adalah pemanfaatan material lumpur dari sawah rusak berat sebagai bahan baku batu bata maupun bata ringan.

Pemimpin Redaksi Serambi Indonesia, Zainal Arifin M. Nur, mengatakan Serambi Award bukan sekadar penghargaan simbolis, tetapi merupakan bentuk pengakuan terhadap ketangguhan Aceh dalam menghadapi bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah pada akhir tahun lalu.

Menurutnya, penghargaan tersebut juga menjadi bentuk apresiasi terhadap berbagai pihak yang ikut menata kembali kehidupan masyarakat di tengah tantangan ekonomi dan politik global.

“Harian Serambi Indonesia percaya bahwa kepemimpinan sejati lahir dari keberanian mengambil langkah, ketulusan mengabdi, dan kebersamaan membangun harapan,” ujar Zainal.

Ia mengatakan tema “Gebrakan Sang Pemimpin” dipilih untuk menegaskan bahwa para penerima penghargaan telah menunjukkan gebrakan nyata, baik melalui kebijakan, aksi di lapangan maupun solidaritas sosial.

Pada ajang tersebut, Pemerintah Aceh juga menerima penghargaan kategori “Kolaborator Strategis dalam Penanganan Bencana di Aceh”. Penghargaan diterima Plt Sekda Aceh, Taufik, ST, M.Si, yang hadir mewakili Gubernur Aceh Muzakir Manaf.

Muzakir Manaf turut menerima penghargaan kategori “Pemimpin untuk Aceh Bangkit”, sedangkan Ketua Tim Penggerak PKK Aceh, Marlina Muzakir, menerima penghargaan kategori “Srikandi Pemulihan Aceh”.

Sejumlah pejabat, kepala daerah, tokoh dan lembaga lainnya juga menerima penghargaan dalam ajang tersebut. Di antaranya Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri Safrizal ZA, Ketua DPRA Zulfadhli, Kajati Aceh Teuku Rahmatsyah, Kapolda Aceh, Pangdam Iskandar Muda, serta sejumlah bupati dan wali kota.

Sekda Aceh Taufik saat membacakan sambutan Gubernur Aceh menyampaikan apresiasi kepada Serambi Indonesia atas penyelenggaraan Serambi Award 2026.

Menurut Gubernur, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk melihat kembali berbagai kerja dan pengabdian yang telah dilakukan, sekaligus memberikan penghargaan kepada pihak-pihak yang telah memberikan arti bagi masyarakat.

Sementara itu, Dirjen Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri, Safrizal ZA, mengapresiasi penyelenggaraan Serambi Award 2026. Dalam penanganan bencana Aceh, Safrizal menjadi salah satu penghubung dalam mengawal proses rehabilitasi dan rekonstruksi di sejumlah wilayah terdampak.

Baca Juga :  Plt Sekda Aceh Dorong Zakat dan Wakaf Jadi Penggerak Ekonomi Umat

Safrizal menilai media memiliki posisi penting dalam membangun komunikasi antara pemerintah dan masyarakat, terutama ketika daerah sedang menghadapi situasi bencana.

Menurutnya, penghargaan tersebut tidak semata-mata menjadi pengakuan terhadap individu, tetapi juga dapat menjadi momentum untuk memperkuat semangat kolaborasi dalam menghadirkan perubahan yang berdampak bagi masyarakat.

Fokus Pemulihan Sawah

Azanuddin Kurnia dinilai memiliki kontribusi penting dalam mendorong pemulihan sawah pascabencana, baik yang mengalami kerusakan ringan, sedang maupun berat.

Untuk sawah dengan kategori rusak ringan dan sedang, penanganan ditargetkan dapat dilakukan pada tahun ini. Total sekitar 40.852 hektare sawah ditargetkan dapat dipulihkan dan diharapkan selesai pada akhir tahun.

Azanuddin mengaku bersyukur atas penghargaan yang diterimanya. Ia menyampaikan terima kasih kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh, Sekda Aceh, jajaran Distanbun Aceh serta seluruh pihak yang selama ini berkolaborasi dalam upaya pemulihan sektor pertanian dan perkebunan.

“Terima kasih kepada Serambi Indonesia. Saya tidak menyangka akan mendapatkan penghargaan ini. Ini adalah anugerah Sang Pencipta. Tinggal kita yang harus tahu dan mampu menerjemahkannya dalam bentuk rasa syukur dan bersabar ketika ditimpa musibah,” kata Azanuddin.

Ia mengatakan berbagai langkah yang dilakukan merupakan bagian dari upaya menjalankan arahan pimpinan untuk mempercepat pemulihan Aceh pascabencana, khususnya pada sektor pertanian dan perkebunan.

Dalam penanganan sawah rusak berat, Azanuddin sebelumnya menawarkan empat skema atau strategi.

Pertama, material lumpur yang terdapat di sawah dapat dimanfaatkan sebagai bahan galian C untuk mendukung berbagai proyek pemerintah maupun kebutuhan lainnya.

Kedua, lahan yang belum dapat segera direhabilitasi dapat dimanfaatkan sementara dengan menanam tanaman berumur pendek yang sesuai dengan kondisi lahan. Di antaranya bawang merah, cabai merah, jagung, ubi kayu, sayuran dan tanaman lain yang sesuai dengan pilihan petani.

Skema tersebut telah dilakukan masyarakat di sejumlah wilayah, seperti Pidie Jaya dan Aceh Tamiang. Namun, pemanfaatan sementara itu dilakukan sambil menunggu proses rehabilitasi sawah agar dapat dikembalikan ke kondisi sebelum bencana.

Ketiga, material lumpur dan tanah hasil pengerukan dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan bata ringan maupun bata merah. Untuk pengembangan konsep tersebut, Azanuddin mendorong penguatan kolaborasi dengan sejumlah pihak, di antaranya Forum Zakat, BRIN, Nurul Hayat dan USK.

Keempat, dilakukan rehabilitasi terhadap sawah yang mengalami kerusakan berat untuk mengembalikan kondisi lahan seperti sebelum bencana.

Menurut Azanuddin, keempat skema tersebut perlu dilakukan secara terpadu agar pemulihan lahan pertanian tidak hanya berorientasi pada perbaikan fisik sawah, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat terdampak.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *